BNI

BNI Siapkan Buyback Saham Hingga Rp905,48 Miliar di Tengah Tekanan Pasar dan Ketidakpastian Global

BNI Siapkan Buyback Saham Hingga Rp905,48 Miliar di Tengah Tekanan Pasar dan Ketidakpastian Global
BNI Siapkan Buyback Saham Hingga Rp905,48 Miliar di Tengah Tekanan Pasar dan Ketidakpastian Global

JAKARTA - Pergerakan saham sektor perbankan sepanjang tahun terakhir menghadapi berbagai tantangan akibat dinamika ekonomi global dan domestik. Dalam situasi tersebut, sejumlah emiten mulai menyiapkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga saham di pasar.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebagai sinyal kepercayaan terhadap fundamental perusahaan. Strategi ini juga sering digunakan untuk meredam tekanan jual yang muncul ketika kondisi pasar mengalami fluktuasi.

Rapat Umum Pemegang Saham (RPUS) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menyepakati rencana perusahaan untuk melakukan Pembelian Kembali Saham (Buyback) beserta rencana pengalihan saham hasil Buyback. Keputusan ini menjadi salah satu agenda penting dalam kebijakan korporasi perusahaan.

Adapun nilai transaksi buyback BBNI yang disiapkan adalah sebesar-besarnya Rp905,48 miliar. Nilai tersebut mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga stabilitas harga saham di pasar modal.

Transaksi Buyback tersebut tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dalam BBNI. Dana yang digunakan untuk aksi korporasi ini berasal dari arus kas bebas perusahaan.

Arus kas bebas tersebut berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Dengan sumber pendanaan tersebut, perusahaan menilai langkah buyback tidak akan mengganggu operasional bisnis.

Nilai transaksi tersebut sudah termasuk biaya transaksi buyback yang meliputi biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee sekitar 0,32% dari nilai eksekusi Buyback. Biaya tersebut merupakan bagian dari proses pelaksanaan transaksi di pasar modal.

Pertimbangan BNI Melakukan Aksi Buyback Saham

Sebelumnya, manajemen BNI menjelaskan pertimbangan dari aksi buyback ini dikarenakan beberapa faktor. Kondisi pasar saham perbankan dinilai menghadapi tekanan sepanjang tahun 2025.

Ada tekanan yang menghantui saham perbankan Indonesia sepanjang tahun 2025 terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif. Faktor eksternal tersebut memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan.

Sementara di dalam negeri, perbankan nasional juga menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut meliputi kondisi likuiditas dan perlambatan permintaan kredit.

Situasi ini menyebabkan saham perbankan Indonesia mengalami tekanan lebih dalam dibandingkan dengan bank-bank di kawasan regional. Kondisi pasar yang kurang kondusif membuat kinerja saham tidak bergerak seoptimal yang diharapkan.

Tercatat, per 31 Desember 2025, harga saham BNI hanya naik 0,5% secara tahunan atau year on year (YoY). Pertumbuhan tersebut dinilai masih terbatas jika dibandingkan dengan potensi kinerja perusahaan.

"Meskipun lebih baik dari local peers, namun saham BNI masih tertinggal jika dibandingkan dengan bank-bank regional peers," kata manajemen BNI dalam keterbukaan informasi beberapa waktu lalu yang dikutip Senin, 9 Maret 2026.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa perusahaan melihat adanya kesenjangan antara harga saham di pasar dengan fundamental bisnis yang dimiliki. Hal ini menjadi salah satu alasan utama dilakukannya aksi buyback.

Fundamental BNI Dinilai Tetap Kuat

Di tengah ketidakpastian akibat sentimen global, manajemen menyatakan forecast kinerja BNI masih tumbuh positif. Perusahaan menilai kondisi fundamental masih berada dalam keadaan yang kuat.

Kinerja fundamental yang resilient menjadi salah satu faktor yang memberikan keyakinan bagi manajemen. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator keuangan perusahaan.

Permodalan BNI masih kuat sehingga mampu mendukung ekspansi bisnis ke depan. Struktur modal yang sehat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan perusahaan.

Selain itu, kualitas aset perusahaan juga dinilai tetap terjaga dengan baik. Pengelolaan risiko kredit yang disiplin menjadi salah satu faktor yang mendukung stabilitas tersebut.

Pertumbuhan kredit juga dinilai berjalan seimbang di semua segmen bisnis. Diversifikasi portofolio kredit membantu menjaga stabilitas kinerja perusahaan.

Di sisi lain, pertumbuhan dana murah atau CASA juga menunjukkan tren yang solid. Kondisi ini didukung oleh transformasi digital yang terus dilakukan oleh perusahaan.

Jaringan layanan yang luas juga menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan dana murah. Dengan jaringan yang kuat, perusahaan mampu menjangkau lebih banyak nasabah.

Namun demikian, eskalasi konflik geopolitik dan perang tarif perdagangan yang masih berlanjut berpotensi menciptakan tekanan inflasi dari nilai tukar. Kondisi tersebut juga berpotensi memberikan dampak terhadap pasar saham.

Tekanan tersebut dapat memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Dampaknya juga dapat dirasakan oleh saham-saham perbankan nasional.

Tujuan Buyback untuk Menjaga Stabilitas Harga Saham

Manajemen BNI menilai bahwa aksi buyback dapat membantu mengurangi tekanan jual di pasar. Langkah ini sering digunakan perusahaan ketika harga saham mengalami fluktuasi yang signifikan.

"Buyback dimaksudkan untuk membantu mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks harga saham sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa perusahaan memandang harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan," jelas manajemen BNI.

Melalui aksi ini, perusahaan ingin menunjukkan kepercayaan terhadap nilai intrinsik sahamnya. Investor diharapkan melihat bahwa perusahaan menilai harga saham saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya.

Pelaksanaan buyback BBNI yang menggunakan arus kas bebas ini akan berdampak pada penurunan aset dan ekuitas. Namun dampak tersebut dinilai tidak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Berkenaan dengan transaksi tersebut, maka dampak terhadap biaya operasional BNI tidak material. Dengan demikian kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan normal.

Selain itu, Laba Rugi perusahaan juga diperkirakan masih sejalan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa aksi buyback tidak akan mengganggu rencana bisnis perusahaan.

Jadwal Pelaksanaan Buyback Saham BNI

Untuk meminta persetujuan atas aksi korporasi ini, BNI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 9 Maret 2026. Forum tersebut menjadi wadah bagi pemegang saham untuk memberikan persetujuan terhadap rencana buyback.

Setelah mendapatkan persetujuan, perusahaan akan mulai melaksanakan program pembelian kembali saham. Periode pelaksanaan telah direncanakan dalam jangka waktu tertentu.

Setelahnya, periode buyback diperkirakan dimulai pada 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027. Rentang waktu tersebut memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam melakukan pembelian saham di pasar.

Periode yang panjang memungkinkan perusahaan menyesuaikan waktu pembelian dengan kondisi pasar. Hal ini penting agar aksi buyback dapat memberikan dampak yang optimal.

Usai buyback rampung, hasilnya akan dialihkan dengan cara dijual kembali baik di Bursa Efek Indonesia maupun di luar bursa. Selain itu, saham tersebut juga dapat digunakan untuk program kepemilikan saham bagi karyawan atau manajemen.

Program kepemilikan saham tersebut biasanya ditujukan bagi pegawai maupun pengurus perusahaan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa memiliki terhadap perusahaan.

Pengalihan saham hanya dapat dilakukan 30 hari setelah pelaksanaan buyback sepenuhnya selesai. Ketentuan ini mengikuti regulasi yang berlaku di pasar modal.

Dengan langkah buyback ini, BNI berharap dapat menjaga stabilitas harga saham sekaligus memperkuat kepercayaan investor. Strategi tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar keuangan yang penuh ketidakpastian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index