Pasukan Anti-Houthi Selidiki Keruntuhan Militer di Pantai Barat Yaman

Jumat, 18 September 2026 | 21:17:00 WIB

KUATKEUANGAN.COM — Lebih dari 15 brigade pasukan anti-Houthi hancur dan seluruh pantai barat Yaman jatuh ke tangan Houthi dalam serangan yang semula diklaim sebagai operasi besar menuju Sana'a. Kekalahan itu memicu investigasi internal di kalangan pasukan pendukung pemerintah Yaman yang diakui PBB, sementara sejumlah politisi menuding miliaran dolar digunakan untuk membeli pengunduran diri pasukan di garis depan.

Kekalahan di front pesisir barat Yaman menjadi pukulan terberat bagi pasukan anti-Houthi sejak konflik berkepanjangan di negara itu dimulai. Sebanyak 30.000 pejuang bersenjata lengkap disebut menarik diri dari posisi mereka, memicu pertanyaan serius soal koordinasi, kesiapan, dan moral pasukan.

Pemerintah Yaman yang diakui PBB bersama kekuatan Saudi tengah meninjau ulang pelajaran dari kekalahan tersebut. Fokus utama kini diarahkan pada upaya merebut kembali Pegunungan Kahbob, titik strategis yang bisa membatasi pergerakan Houthi menuju Selat Bab al-Mandab.

Klaim Suap Miliaran Dolar dan Tudingan Pengkhianatan

Gubernur Hadramaut, salah satu provinsi terbesar Yaman, menuding miliaran dolar ditawarkan untuk membujuk pasukan yang menjaga pantai barat agar meninggalkan posisi mereka. Ia tidak menyebut sumber dana tersebut.

Sejumlah pihak menduga ada kaitan antara Uni Emirat Arab dan Pasukan Perlawanan Nasional pimpinan Tareq Saleh. UEA meninggalkan Yaman pada Januari, tetapi masih menyimpan ganjalan terhadap peran Saudi yang memaksa mereka keluar dan melarang Dewan Transisi Selatan yang separatis.

Peraih Nobel Perdamaian asal Yaman, Tawakkol Karman, menyerukan investigasi atas peristiwa itu. Aktivis politik asal Mocha, Abdu Mukabib, menyebut penarikan pasukan dari kota pelabuhan yang kini dikuasai Houthi pada dini hari 10 September sebagai pengkhianatan besar.

Mukabib menulis di halaman Facebook-nya bahwa saat Houthi memasuki kota pukul 6 pagi, jumlah pasukan mereka kurang dari 20 orang: dua kendaraan militer masing-masing berisi lima orang dan empat sepeda motor berisi dua orang.

"Kami tidak menuduh siapa pun, tetapi mereka semua ikut mengkhianati kami, bersekongkol melawan kami, menjual perjuangan kami dan meninggalkan kami," kata Mukabib.

"Itu bukan penarikan karena kelemahan atau kekurangan peralatan dan pasokan, melainkan penarikan yang pengecut dan memalukan."

Bantahan Pasukan Perlawanan Nasional

Pasukan Perlawanan Nasional menyatakan mereka mundur setelah 500 tentara tewas dan untuk mencegah pengepungan. Saleh mengklaim kini membentuk "Perlawanan Tihami", kelompok yang sepenuhnya independen dari pasukan nasional Yaman.

Penjelasan lain menyoroti lemahnya komunikasi komando dan kendali yang memperlambat pengambilan keputusan, kuatnya intelijen Houthi, serta perpecahan di tubuh pasukan anti-Houthi termasuk pengaruh komandan Saudi.

Beberapa jam sebelum penarikan, Houthi merebut markas Pasukan Perlawanan Nasional di dataran tinggi Jabal al-Nar. Markas itu disebut menampung enam brigade militer dan persenjataan canggih pasokan Saudi.

Houthi Kini Bukan Sekadar Proksi Iran

Di sisi lain, Houthi berkembang menjadi kekuatan militer yang semakin canggih dengan dukungan intelijen Iran. Mereka memanfaatkan perang modern berbiaya murah, memakai drone murah untuk mengganggu lalu lintas maritim.

Lebih dari 10 tahun menguasai wilayah kunci Yaman dan sesekali menerima bayaran dari Saudi membuat kas mereka cukup besar. Houthi tidak hanya mampu membeli rudal balistik, tetapi juga membangun infrastruktur produksi senjata sendiri sehingga makin tidak bergantung pada Iran.

Pejabat Iran menegaskan Houthi bukan sekadar pasukan proksi, melainkan memiliki struktur komando dan prioritas sendiri yang terpadu.

Pelajaran dari Kekalahan di Mocha

Sebuah pasukan terbatas dari Brigade Raksasa, kelompok yang pernah terkait dengan separatis selatan dukungan UEA, diklaim berhasil menahan laju Houthi dan merebut kembali sejumlah posisi beberapa hari sebelum Mocha jatuh. Posisi itu semestinya bisa menjadi batu loncatan untuk merebut inisiatif.

Namun penarikan unit Pasukan Perlawanan Nasional di sebelahnya melemahkan gerak maju tersebut dan mengubahnya menjadi rangkaian mundur.

Prof Dr Abdulwahab al-Awaj dari Universitas Taiz menilai keruntuhan front pesisir barat bukan sekadar kekalahan militer konvensional. Menurutnya, itu tanda pecahnya koordinasi dan kepercayaan di antara pasukan anti-Houthi, dan Houthi memanfaatkan hal itu lebih dari keunggulan militer apa pun.

"Merebut kembali inisiatif tidak bisa dicapai hanya dengan mengirim bala bantuan. Yang dibutuhkan adalah reorganisasi pasukan pemerintah dan formasi sekutu di bawah visi operasional terpadu, mengatasi celah keamanan, dan membangun kepercayaan nyata di lapangan," kata al-Awaj.

Investigasi atas apa yang banyak disebut sebagai bencana militer itu belum sepenuhnya bersifat retrospektif. Pemerintah Yaman dan pasukan Saudi sama-sama meninjau ulang apakah keuntungan Houthi masih bisa dibalikkan.

Terkini