Ekonomi Sulut Tumbuh 5,42%, BI Soroti Inflasi 3,68% dan Kredit Melambat

Ekonomi Sulut Tumbuh 5,42%, BI Soroti Inflasi 3,68% dan Kredit Melambat
Ekonomi Sulut Tumbuh 5,42%, BI Soroti Inflasi 3,68% dan Kredit Melambat

KUATKEUANGAN.COM — Ekonomi Sulawesi Utara tumbuh 5,42% secara year on year pada triwulan II-2026, ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Di sisi pembiayaan, kredit perbankan hanya naik 3,08% sementara dana pihak ketiga tumbuh 8,08%. Bank Indonesia mengingatkan inflasi kumulatif yang sudah mencapai 3,68% perlu diwaspadai menjelang akhir tahun.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara Joko Supratikto menyampaikan angka tersebut dalam pemaparan di Manado. Menurutnya, hasil survei BI menunjukkan konsumsi masyarakat Kota Manado masih solid, tercermin dari Indeks Penjualan Riil.

Indeks Ekspektasi Harga juga mengindikasikan optimisme bahwa harga akan terkendali hingga akhir 2026. Dari sisi dunia usaha, Survei Kegiatan Dunia Usaha mencatat saldo bersih tertimbang yang meningkat signifikan pada triwulan III-2026 sebagai sinyal ekspansi aktivitas usaha.

Kredit Tumbuh 3,08%, DPK Melaju 8,08%

Intermediasi perbankan di Sulut bergerak positif, tetapi tidak seimbang. Kredit meningkat 3,08% secara year on year per Juli 2026, sementara dana pihak ketiga tumbuh lebih cepat 8,08%.

Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio non performing loan sebesar 2,77%. Angka itu menunjukkan risiko pembiayaan relatif terkendali meski pertumbuhan kredit tergolong moderat.

Gap antara pertumbuhan DPK dan kredit menjadi catatan tersendiri. Dana yang masuk ke perbankan belum sepenuhnya tersalurkan ke sektor produktif, sehingga likuiditas menumpuk di sisi simpanan.

Inflasi Kumulatif Sentuh 3,68%

Perkembangan harga menjadi perhatian utama BI Sulut. Inflasi kumulatif hingga Agustus 2026 mencapai 3,68% secara year to date, mendekati batas atas rentang sasaran nasional 2,5% plus minus satu persen.

Joko meminta penguatan sinergi antarinstansi untuk menjaga pasokan dan kelancaran distribusi. Langkah itu dinilai krusial agar inflasi tidak melampaui sasaran hingga akhir tahun.

"Berdasarkan hasil survei BI, konsumsi masyarakat Kota Manado tetap kuat tercermin dari Indeks Penjualan Riil," kata Joko.

Data responden survei, menurut dia, menjadi dasar penting penyusunan asesmen dan rekomendasi kebijakan agar tepat waktu, tepat sasaran, dan berdampak nyata bagi daerah.

Tekanan Biaya Distribusi Jadi Kunci

Sulawesi Utara sebagai daerah kepulauan menghadapi karakteristik biaya logistik yang lebih tinggi dibanding wilayah Jawa. Faktor itu membuat gejolak harga pangan dan angkutan cepat merambat ke inflasi daerah.

Pertumbuhan ekonomi 5,42% memang di atas rata-rata nasional, tetapi tidak otomatis menekan inflasi. Permintaan yang kuat justru bisa mendorong harga naik bila pasokan tidak mengimbangi.

Bagi pelaku usaha, sinyal ekspansi dari SKDU menjadi indikasi permintaan masih terbuka. Namun pelonggaran pembiayaan akan bergantung pada kemampuan perbankan menyalurkan DPK yang tumbuh dua kali lebih cepat dari kredit.

Pemerintah daerah dan BI akan terus memantau gerak harga komoditas pangan strategis. Operasi pasar dan kerja sama antardaerah menjadi opsi menjaga stok menjelang akhir tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index