Rizaldi Boer: Paludikultur Bisa Cegah Karhutla Tanpa Korbankan Ekonomi Gambut

Rizaldi Boer: Paludikultur Bisa Cegah Karhutla Tanpa Korbankan Ekonomi Gambut

KUATKEUANGAN.COM — Lahan gambut yang selama ini rawan terbakar bisa tetap dimanfaatkan untuk ekonomi tanpa harus dikeringkan. Guru besar IPB University menyebut teknik paludikultur sebagai jalan tengah, meski pasar komoditasnya masih jadi kendala utama.

Head of International Research Institute for Environment and Climate Change IPB University, Rizaldi Boer, menegaskan budidaya di lahan gambut menuntut varietas tanaman yang benar-benar cocok dengan ekosistemnya. Pendekatan itu dikenal sebagai paludikultur, yakni konversi dari model budidaya yang selama ini memerlukan drainase menjadi tanpa pengeringan sama sekali.

Dengan tidak membuat drainase, permukaan gambut tetap basah dan jauh dari risiko terbakar. Rizaldi menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Jakarta, Jumat (18/9).

Tanaman yang Cocok dan Klaim Nol Kebakaran

Beberapa komoditas dinilai pas dibudidayakan di lahan basah, seperti sagu, gemor, dan pohon penghasil resin macam jelutung. Paludikultur sendiri bukan sistem baru dan sudah banyak diadaptasi di lapangan.

"Kalau itu sudah dilakukan, tidak pernah lagi kebakaran," ujar Rizaldi.

Ia menyebut sistem ini pasti aman selama diterapkan konsisten. Persoalannya bukan pada teknis budidaya, melainkan pada sisi hilir.

Pasar Komoditas Jadi Hambatan Utama

Rizaldi mengakui pasar bagi produk paludikultur belum terbentuk dengan baik. Petani yang ingin beralih ke sistem ini butuh kepastian agar hasil panennya tetap tersalurkan.

Di titik itu peran pemerintah dibutuhkan, salah satunya lewat insentif atas manfaat karbon yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Dorongan semacam ini dinilai bisa menjaga minat petani untuk bertahan di model budidaya ramah gambut.

Selain pasar, aspek keberlanjutan operasional juga tak bisa diabaikan. Rizaldi mengingatkan tata air di lahan gambut harus dijaga stabil dan tidak sampai turun di bawah 40 cm dari permukaan tanah.

Kaitan Karhutla dengan Target NDC 2030

Timbulan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lain sangat menentukan pencapaian target penurunan emisi dalam dokumen nationally determined contributions atau NDC. Jika insiden kebakaran hutan dan lahan yang melepas emisi tidak tertangani, target itu sulit dikejar.

Dalam dokumen enhanced NDC, Indonesia mematok penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030 sebesar 31,89% dengan upaya sendiri dan 43,2% dengan dukungan internasional.

Karena itu, Rizaldi menilai restorasi ekosistem gambut untuk mencegah karhutla perlu masuk pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengendalian Perubahan Iklim yang tengah bergulir.

"Saya tidak tahu undang-undang sejauh atau serinci apa itu bisa dituangkan, tapi aspek itu menjadi sangat penting untuk disinggung," kata dia.

Gambut Kering, Pemicu Kebakaran Berulang

Prinsip dasar paludikultur bertolak dari sifat gambut yang mudah terbakar ketika kering. Selama ini drainase dipakai untuk menyiapkan lahan bagi tanaman yang butuh tanah relatif kering, dan justru di situlah risiko muncul.

Menggantinya dengan tanaman yang toleran terhadap lahan basah memutus rantai masalah tersebut. Model ini menawarkan jalan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan fungsi ekologis gambut.

Yang tersisa kini adalah membangun permintaan pasar dan kerangka insentif karbon. Tanpa keduanya, adopsi paludikultur berisiko berhenti di tataran wacana meski manfaatnya sudah terbukti di lapangan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index