KUATKEUANGAN.COM — Anak pilek, batuk, dan bersin terus-menerus sering membuat ibu bingung menentukan apakah ini infeksi atau alergi. Dokter spesialis anak dr. Vini Jamarin, Sp.A. menjelaskan perbedaan keduanya, mulai dari penyebab, gejala, sampai cara penanganan yang tepat di rumah.
Hidung anak tersumbat disertai bersin berulang bisa jadi tanda infeksi virus atau reaksi alergi. Dua kondisi ini memang sering sulit dibedakan karena gejalanya mirip.
Dokter spesialis anak dr. Vini Jamarin, Sp.A. memaparkan bahwa infeksi dan alergi punya akar penyebab yang berbeda. Penanganan yang salah justru bisa memperburuk kondisi anak.
Infeksi Virus pada Anak dan Penyebabnya
Common cold atau selesma adalah infeksi virus ringan di saluran pernapasan atas. Anak yang mengalaminya biasanya jadi rewel, malas bergerak, atau susah makan.
Penyebab paling umum adalah rhinovirus. Virus lain yang cukup sering menyerang anak antara lain coronavirus, influenza, parainfluenza, dan respiratory syncytial virus.
Adenovirus dan enterovirus termasuk penyebab yang jarang. Gejala khas infeksi virus meliputi sakit tenggorokan, pilek, batuk, dan demam.
Pada bayi dan anak kecil, gejala bisa bertahan kurang dari satu minggu hingga lebih dari dua minggu. Ibu perlu waspada bila anak menolak makan dan minum atau napasnya terasa berat dan cepat.
Alergi pada Anak dan Tahapan Allergic March
Sistem kekebalan anak yang terkait alergi berkembang melalui empat kondisi utama seiring bertambahnya usia. Pola ini dikenal sebagai allergic march.
Di masa bayi, eksim atau dermatitis atopik sering muncul lebih dulu. Cirinya kulit kering, kemerahan, dan gatal.
Memasuki usia kanak-kanak awal, sensitivitas terhadap makanan seperti susu, telur, atau kacang-kacangan lebih sering terjadi. Saat usia sekolah, asma dan mengi mencapai puncaknya.
Pada masa remaja hingga dewasa, rinitis atau peradangan lapisan rongga hidung akibat alergen yang terhirup jadi keluhan yang dominan.
Gejala Alergi yang Khas
Alergi pada anak ditandai produksi air mata berlebih, bersin, dan hidung berair. Kulit juga bisa gatal, memerah, atau bengkak di bawah lapisan kulit.
Batuk kerap menyertai reaksi alergi. Bedanya dengan infeksi, alergi tidak selalu disertai demam.
Cara Meredakan Infeksi di Rumah
Pemberian sedikit madu bisa meredakan tenggorokan dan mengurangi frekuensi batuk malam. Hindari memberi madu pada bayi di bawah satu tahun.
Membersihkan hidung dengan spuit tanpa jarum dan cairan salin membantu mengeluarkan lendir serta kotoran. Tindakan ini tergolong aman, tapi sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter.
Berjemur di bawah sinar matahari pagi dapat meredakan hidung tersumbat dan mengencerkan dahak.
Langkah Pencegahan Infeksi dan Alergi
Berikan anak makanan bergizi seimbang dan lengkapi imunisasi sesuai usianya. Biasakan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah bermain atau makan.
Ajarkan etika batuk yang benar, yakni menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Jauhkan anak dari paparan asap rokok.
Untuk alergi, cuci perlengkapan tidur secara rutin dan bersihkan rumah berkala agar bebas debu. Nebulizer bisa dipakai untuk mengatasi alergi berat dan gangguan pernapasan.
Kapan Perlu ke Dokter
Segera bawa anak ke dokter bila ia menolak makan dan minum, napasnya berat atau cepat, atau demam tak kunjung turun. Pada alergi, waspadai pembengkakan yang meluas dan sesak napas.
Jangan berikan obat sembarangan tanpa pemeriksaan. Dokter akan menentukan apakah kondisi anak akibat infeksi atau alergi sebelum memberi penanganan.
Mengenali beda infeksi dan alergi membantu ibu memberi pertolongan yang tepat sejak awal. Catat gejala yang muncul dan durasinya agar dokter lebih mudah menegakkan